Sabtu, 23 April 2011

Sakramen Pembaptisan


Kata baptis berasal dari kata Yunani baptizein (kata bendanya: baptisma), yang berarti membenamkan atau menenggelamkan diri ke dalam air atau mencuci diri, entah seluruhnya atau sebagian. Dari arti kata ini kita dapat mengambil suatu pengertian secara sederhana bahwa pembaptisan itu adalah suatu pembersihan diri dari segala kotoran-kotoran dosa khususnya dosa yang disebabkan oleh nenek moyang yang juga disebut dosa asal. Pada masa-masa awal Gereja, orang-orang Kristen memberi diri untuk dibaptis dengan menenggelamkan diri ke dalam air. Mereka menanggalkan pakaian dan masuk ke dalam air.

Kita juga mengenal dalam tradisi umat Israel adanya berbagai macam upacara yang mengarah pada arti pembaptisan yang kita pahami sekarang dalam Gereja Katolik. Upacara-upacara semacam ini misalnya: dalam kitab Bilangan ada upacara pentahiran yang menggunakan percikan air (Bil 9:17-22), mandi dengan menenggelamkan diri ke dalam sungai (2 Raj 5:14 ; Ydt 12:7). Hal yang lebih jelas lagi kita lihat dalam pewartaan Yohanes Pembaptis, ia berseru di padang gurun untuk menyerukan pertobatan “bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” (Mat. 1:4) Dengan seruan dan pewartaan ini orang pun datang dan memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Pertobatan yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis ini tidak lain adalah seruan agar semua orang mempersiapkan dirinya akan kedatangan kerajaan Allah.
ARTI SAKRAMEN PEMBAPTISAN DALAM HIDUP KATHOLIK

Sakramen Pembaptisan merupakan dasar dari seluruh kehidupan Kristiani, pintu menuju hidup dalam Roh dan pintu yang memberi kemungkinan untuk menerima sakramen-sakramen yang lain. Melalui pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah; kita menjadi saudara-saudara Kristus, dimasukan ke dalam Gereja dan ikut ambil bagian dalam perutusan Gereja. Baptis adalah sakramen kelahiran kembali oleh air dalam Sabda. Rahmat yang diterima dalam Sakramen Pembaptisan menyembuhkan keadaan jiwa “tanpa rahmat” yang disebut dosa asal. Seperti dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus berkata “sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.”(Rom 6:14)

Dengan Sakramen Pembabtisan ini Yesus memberikan hidup baru, hidup ilahi dan menjadikan kita anak-anak Allah. Dia menyambut kita ke dalam suatu hidup yang penuh keakraban dengan Tiga Pribadi Ilahi dalam Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus. “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah.” (1 Yoh 3:1) Bersama dengan hidup ilahi yang diterima melalui rahmat Sakramen Pembaptisan, Kristus memberi kita kekuatan yang memungkinkan kita untuk bertindak sebagai anak-anak Allah dan tumbuh dalam hidup ilahi.

Setelah kita dibaptis kita tidak dapat lagi berdoa atau menderita sendirian. Ketika kita berdoa, kita berdoa kepada Bapa di Surga dan doa-doa kita akan didengarkan karena persatuan kita dengan Kristus. Penderitaan yang kita alami di dunia ini bukan lagi sesuatu yang sulit dicari jalan keluarnya, tetapi oleh rahmat pembaptisan yang telah mengangkat kita menjadi anak-anak Allah, kita dapat berseru kepada Bapa kita yang ada di Surga. “Sekarang aku bersukacita karena aku boleh menderita karena kamu dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang dalam penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya yaitu jemaat.” (Kol 1 : 24) Sehingga dalam penderitaan apapun yang kita alami dalam kehidupan kita, kita harus bersyukur, karena semuanya itu boleh kita rasakan sebagai keikutsertaan kita dalam penderitaan Kristus. Melalui Sakramen Pembaptisan atau oleh rahmat pembaptisan juga kita dipersatukan dengan Roh Kudus yang memampukan kita menyadari akan arti dari hidup kita.

SAKRAMEN BAPTIS SEBAGAI SAKRAMEN KESELAMATAN
Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok Sakramen Pembaptisan:
“Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa sehingga dengan demikian kita juga akan hidup dalam hidup yang baru.”(Rom 6:4)
Dengan kata lain, yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan dan menjadikan Kristus sebagai pusat hidupnya. Hal yang sama, St. Paulus menghimbau umat-umat di Kolose:

“Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan dan didalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.”(Kol 2:12)

Tuhan sendiri mengatakan bahwa pembaptisan itu sangat perlu untuk keselamatan. Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, yang kepadanya Injil diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon sakramen ini. Gereja tidak mengenal sarana lain dari pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk kedalam kebahagiaan abadi. Oleh karena itu dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh.”

Tuhan telah mengikat keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen-Nya (katekismus Gereja Katolik Art. 1257). Lalu bagaimana dengan para martir yang belum sempat menerima pembaptisan? Gereja Katolik sudah sejak dahulu yakin bahwa orang yang mengalami kematian karena imannya akan Yesus Kristus, tanpa sebelumnya menerima Sakramen Pembaptisan, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya. Pembaptisan darah ini menghasilkan buah-buah pembaptisan dan demikian juga kerinduan akan pembaptisan walaupun tidak merupakan sakramen. Bagi para katekumen yang meninggal sebelum baptisan, kerinduan untuk menerima Sakramen Pembaptisan, penyesalan atas dosa-dosanya dan cinta kasih sudah menjadi jaminan keselamatan yang tidak dapat mereka terima melalui sakramen itu. Karena Kristus telah wafat bagi semua orang dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska.

Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan pembaptisan, seandainya mereka menyadari akan peranannya demi keselamatan.

KONSEKUENSI DARI SAKRAMEN PEMBAPTISAN

Dalam kitab suci, hasil karya keselamatan disebut sebagai suatu “kelahiran baru”. Melalui iman dan pembaptisan setiap orang yang beriman dan umat Allah dijadikan “ciptaan baru”. Oleh karena itu, kita sebagai ciptaan baru oleh rahmat pembaptisan harus mempunyai suatu semangat untuk menghayati dan tetap berpegang teguh pada janji pembaptisan.

1. Penghayatan tuntutan pembaptisan

Hidup orang kristen berakar dalam Sakramen Pembaptisan. Oleh pembaptisan seseorang dikuduskan bagi Allah dan mengingkari dunia serta segala yang bertentangan dengan pengudusan itu. Lebih tepat dikatakan bahwa dengan pembaptisan, dimulailah proses pengudusan dan pengingkaran dalam diri seseorang. Kekudusan memang merupakan hasil pembaptisan tetapi juga merupakan tantangan dan tuntutan pembaptisan. Orang yang dibaptis ditantang untuk bertumbuh terus dalam kesempurnaan karena hal itu merupakan panggilan bagi semua orang.

Dengan pembaptisan, semua orang diikutsertakan dalam wafat dan kebangkitan Kristus dan karena itu dipanggil untuk semakin masuk dalam persekutuan dengan Allah. Manusia dijadikan “ciptaan baru” sejauh dia berada dalam Kristus (2 Kor 5:17). Berada dalam Kristus dan perdamaian dengan Allah dimulai dengan pembaptisan. Tekanan khusus yang mau diberikan dalam hidup orang kristen oleh penerimaan Sakramen Pembaptisan bukanlah soal status, tetapi bagaimana penghayatan dari Sakramen Pembaptisan itu sendiri. Dengan ikatan Sakramen Pembaptisan orang dibawa kepada suatu pola hidup yang ditentukan oleh kerajaan Allah yaitu untuk mati bagi dosa dan menguduskan diri bagi Allah.

2. Pertobatan yang terus-menerus

Inti hidup baru yang dihasilkan oleh pembaptisan merupakan ikatan perjanjian antara Allah dan manusia. Dari pihak Allah ada rahmat yang tidak henti-hentinya diberikan untuk menopang manusia dalam mewujudkan panggilannya menjadi putera Allah dalam Roh Kudus. Dari pihak manusia ada usaha yang terus-menerus untuk menjawab panggilan itu dengan tidak henti-hentinya berjalan menuju Allah. Perjalanan untuk mencapai kedewasaan sebagai putera Allah dalam Kristus merupakan cita-cita yang tidak pernah tercapai sepenuhnya selama manusia mengembara di dunia ini.

Orang kristen selalu ada dalam perjalanan, ia selalu sedang “berjalan menuju” dalam usaha yang tidak henti-hentinya untuk mencari kepenuhan karya Kristus. Pertobatan jangan diartikan hanya sebagai rasa menyesal dan mohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Ini hanya satu segi. Segi yang paling penting lagi ialah mengarahkan diri kepada Allah sebagai arah tujuan satu-satunya dari perjalanan hidup ini. Orang yang melakukan pertobatan berarti berbalik membelakangi segala hal yang tidak baik demi mengarahkan langkahnya kepada satu sasaran saja, yaitu Allah.

3. Menjadi terang dan garam bagi orang di sekitar kita

Dalam menerima Sakramen pembaptisan, para calon baptis akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan: apakah engkau percaya akan Allah Bapa Yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi? Apakah engkau percaya akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan dari perawan Maria, disalibkan, wafat dan dimakamkan, bangkit dari mati dan sekarang duduk di sebelah kanan Bapa? Apakah engkau percaya akan Roh Kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan hidup yang kekal? Serta berjanji untuk menolak setan dan segala kesia-siaannya.

Pengungkapan janji ini merupakan suatu ikatan bahwa kita telah dijadikan sebagai anak Allah dan dengan kekuatan rahmat Allah melalui Roh Kudus lewat Sakramen Pembaptisan memampukan kita untuk berjalan menuju Allah. Perlu disadari juga bahwa setelah kita menerima Roh Kudus lewat Sakramen Pembaptisan, kita diutus ke tengah dunia untuk menjadi saksi akan kehadiran Allah dalam kehidupan kita oleh Yesus Kristus. Kehadiran seorang yang sudah dibaptis dalam nama Tuhan Yesus harus menjadi terang dan garam bagi orang yang dijumpainya. Mampu menerangi hati orang yang sedang dalam kegelapan dan menggarami hati setiap orang yang terasa hambar.

PENUTUP

Dalam dosa, manusia mendahulukan dirinya sendiri daripada Allah dan dengan demikian mengabaikan Allah; ia memilih dirinya sendiri melawan Allah, melawan kebutuhan-kebutuhan keberadaannya sendiri sebagai makhluk dan juga dengan demikian melawan kesejahteraan sendiri. Manusia diciptakan dalam kekudusan, manusia ditentukan untuk di-ilahi-kan sepenuhnya oleh Allah dalam kemuliaan. Namun, karena kesombongan dari diri manusia sendiri, ia hendak menjadi seperti Allah, ingin tahu segala sesuatu sehingga akhirnya jatuh kepada ketidaktaatan akan perintah Allah. St. Paulus mengatakan: ”Oleh ketidaktaatan satu orang, semua telah menjadi manusia berdosa.” (Rom 5:19) Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Namun karena begitu besar kasih Allah kepada manusia yang hakikatnya setara dengan Allah, Ia rela turun ke dunia melalui Putera-Nya Yesus Kristus, untuk mengangkat kembali keadaan manusia yang telah jatuh kedalam dosa. Pendamaian antara Allah dan manusia melalui Yesus ini, diwujudkan dalam Sakramen Pembaptisan yang menjadikan kita kembali menjadi anak-anak Allah, oleh karena kita anak-anak Allah maka kita juga akan masuk ke dalam ahli waris kerajaan Surga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar