Jumat, 02 September 2011

Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium

Kitab Suci dan Tradisi

Protestan mengklaim bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya aturan iman, artinya bahwa kitab suci mengandung semua materi yang diperlukan untuk teologi dan materi ini cukup jelas sehingga seseorang tidak memerlukan tradisi apostolik atau Magisterium Gereja (otoritas mengajar) untuk membantu memahaminya. Dalam pandangan protestan, keseluruhan kebenaran Kristen ditemukan dalam halaman Kitab Suci. Segala sesuatu yang bersifat tambahan bagi Kitab Suci adalah non-otoritatif, tidak perlu, atau salah – dan mungkin menghalangi seseorang datang kepada Allah.

Orang katolik, di sisi lain, mengenali bahwa kitab suci tidak mendukung pandangan ini, faktanya, hal ini dibantah dalam Kitab Suci. “Aturan iman” yang sebenarnya – seperti yang diekspresikan dalam Kitab Suci sendiri – adalah Kitab Suci ditambah tradisi apostolik, yang terwujud dalam otoritas mengajar Gereja Katolik yang hidup, yang kepadanya dipercayakan ajaran lisan Yesus dan para rasul, bersama dengan otoritas untuk menafsirkan Kitab Suci dengan benar.

Dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang wahyu ilahi, Dei Verbum (Latin : Sabda Allah), hubungan diantara Kitab Suci dan Tradisi dijelaskan :”Oleh karena itu ada hubungan yang dekat dengan Tradisi Suci dan Kitab Suci. Karena keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dalam cara tertentu bergabung dalam sebuah kesatuan dan cenderung menuju akhir yang sama. Karena Kitab Suci adalah sabda Allah sejauh disampaikan dalam tulisan dibawah inspirasi Roh Ilahi. Kepada penerus para rasul, Tradisi Suci menyerahkan Sabda Allah dalam kemurnian yang penuh, yang dipercayakan kepada para rasul oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus.

Oleh karena itu, melalui terang Roh kebenaran, para penerus bisa mempertahankan Sabda Allah dengan setia dalam khotbah mereka, menjelaskannya, dan membuatnya diketaui lebih luas. Konsekuensinya, bukan dari Kitab Suci saja bahwa Gereja menarik kepastian tentang segalanya yang telah diwahyukan. Karenanya, Tradisi Suci dan Kitab Suci harus diterima dan dihormati dengan devosi dan rasa hormat yang sama.

Tapi protestan Evangelis dan Fundamentalis, yang menempatkan keyakinan mereka dalam teori Martin Luther, sola scriptura (Latin : Kitab Suci Saja), biasanya akan berargumen demi posisi mereka dengan mengutip sepasang ayat kunci. Pertama : “Hal ini ditulis sehingga kamu bisa percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah, dan percayalah maka kamu akan memperoleh hidup dalam namanya”. Lainnya :”Semua tulisan kitab suci diinspirasikan dan berguna untuk mengajar, menangkal kekeliruan, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran; sehingga manusia Allah dilengkapi, disiapkan untuk setiap perbuatan baik.”(2 Timotius 3 : 16-17). Menurut protestan, ayat-ayat ini menunjukkan realitas sola scriptura (teori “Hanya kitab suci”).

Tidak juga, jawab katolik. Pertama, ayat dari Yohanes menunjuk kepada hal-hal tertulis dalam kitab itu (baca dengan Yoh 20 : 30, sebelum melihat konteks pernyataan yang dibicarakan). Jika ayat ini membuktikan apapun, ia tidak membuktikan teori sola scriptura tapi membuktikan bahwa Injil Yohanes cukup.

Kedua, ayat dari Injil Yohanes memberitahu kita bahwa hanya Kitab Suci yang disusun sehingga kita bisa dibantu percaya Yesus adalah Mesias. Ia tidak berkata bahwa Kitab Suci adalah semua yang kita perlukan demi keselamatan, tidak juga bahwa kitab suci adalah semua yang kita perlukan bagi teologi, juga tidak dikatakan bahwa kitab suci perlu untuk percaya dalam Kristus. Lalu, umat Kristen awal tidak memiliki perjanjian baru yang mereka bisa jadikan bantuan; mereka belajar dari instruksi lisan, bukannya tertulis, sampai beberapa waktu belakangan, Kitab Suci tidak terakses bagi sebagian besar orang, karena mereka tidak bisa membaca atau karena mesin cetak belum ditemukan. Semua orang belajar dari instruksi lisan, yang diwariskan, generasi ke generasi, oleh Gereja.

Hal yang sama juga bisa dikatakan tentang 2 Timotius 3 : 16-17. Untuk mengatakan bahwa semua tulisan yang diinspirasi “memiliki kegunaannya” adalah satu hal; untuk berkata hanya tulisan yang diinspirasi perlu diikuti adalah hal yang lain. Selain itu, ada argumen menentang klaim protestan Evangelis dan Fundamentalis. John Henry Newmann menjelaskannya dalam essay tahun 1884 berjudul “Inspirasi dan Hubungannya dengan Wahyu”

Argumen Newmann

Ia menulis “Cukup jelas bahwa kutipan ini tidak melengkapi argument apapun bahwa Kitab Suci, tanpa Tradisi, adalah satu-satunya aturan iman; karena meskipun Kitab Suci menguntungkan demi 4 tujuan, tetap tidak bisa dikatakan bahwa kitab suci cukup. Rasul Paulus mensyaratkan abntuan Tradisi (2 Thes 2 : 15). Juga, Rasul Paulus disini juga merujuk pada kitab suci dimana Timotius diajar dalam masa bayinya.

“Sekarang, bagian yang baik dari Perjanjian baru tidak tertulis dalam masa anak-anaknya : Beberapa surat katolik tidak ditulis bahkan ketika Paulus menulis ini [surat kedua Timotius], dan tidak ada kitab perjanjian baru yang ditempatkan dalam kanon Kitab Suci. Ia merujuk pada kitab suci perjanjian lama, dan jika argumen dari kutipan ini membuktikan, kutipan ini membuktian teralu banyak, viz., bahwa kitab suci Perjanjian Baru tidaklah perlu untuk sebuah aturan iman”

Lebih lanjut, Protestan secara khas membaca 2 Timotius 3 : 16-17 diluar konteksnya. Ketika dibaca dalam konteks sekitarnya, seseorang menemukan bahwa referensi Paulus pada kitab suci hanya bagian dari anjuran yang diambil Timotius sebagai pembimbingnya Tradisi dan Kitab Suci. Dua ayat sebelumnya menyatakan :”Sedang engkau, berpeganglah teguh pada apa yang telah kau pelajari dan yang telah kau yakini, karena menyadari dari siapa engkau telah menerimanya. Selain itu engkau telah mengenal Kitab Suci sejak masa kanak-kanak. Kitab Suci itu akan memberi kepadamu kebijaksanaan yang akan membimbingmu kepada keselamatan melalui iman dalam Kristus Yesus.” (2 Tim 3 : 14-15)

Paulus memberitahu Timotius untuk melanjutkan apa yang ia telah pelajari untuk dua alasan : pertama, karena ia tahu dari siapa ia mempelajarinya – Paulus sendiri – dan kedua, karena ia telah dididik dalam kitab suci. Pertama adalah seruan langsung pada tradisi apostolik, ajaran lisan yang rasul Paulus telah berikan kepada Timotius. Jadi Protestan harus mengambil 2 Timotius 3 : 16-17 keluar konteksnya untuk tiba pada teori sola scriptura. Namun ketika dibaca dalam konteksnya, menjadi jelas bahwa ini adalah ajaran tentang pentingnya tradisi apostolik!

Kitab Suci menyangkal bahwa ia cukup sebagai aturan iman yang lengkap. Paulus berkata bahwa banyak ajaran Kristen ditemukan dalam tradisi yang diteruskan secara lisan (2 Tim 2 : 2). Ia menginstruksikan kita untuk “berdirilah tegak dan berpegang teguh pada tradisi-tradisi yang telah kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun melalui tulisan. ”

Ajaran lisan ini diterima umat Kristen, sama seperti mereka menerima ajaran tertulis yang datang kemudian. Yesus memberitahu para murid :”Ia yang mendengar kamu mendengar aku, dan ia yang menolak kamu menolak Aku” (Lukas 10 : 16). Gereja, dalam pribadi-pribadi para rasul, diberikan otoritas mengajar oleh Kristus, Gereja menjadi perwakilannya. Ia memerintahkan mereka, berkata,”Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” (Mat 28 : 19)

Dan bagaimana hal ini dilakukan? Melalui khotbah, melalui insturksi lisan :”Jadi iman muncul dari apa yang dididengar, dan apa yang dididengar datang dari khotbah tentang Kristus” (Rom 10 : 17). Gereja selalu menjadi guru yang hidup. Adalah sebuah kesalahan untuk membatasi “sabda Kristus” hanya pada kata-kata tertulis atau menyarankan bahwa semua ajaran-Nya direduksi pada tulisan. Kitab Suci tidak mendukung gagasan ini.

Lebih lanjut, jelas bahwa ajaran lisan Kristus akan bertahan sampai akhir zaman. “Tapi sabda Tuhan tinggal selamanya” Kata itu adalah kabar baik yang dikhotbahkan kepadamu” (1 Pet 1 : 25). Perhatikan bahwa sabda telah “dikhotbahkan” – yaitu, dikomunikasikan secara lisan. Hal ini akan bertahan. Ini tidak digantikan oleh catatan tertulis seperti Kitab Suci (ditambahkan, iya, tapi tidak digantikan) dan akan tetap berlanjut memiliki otoritasnya.

Hal ini menjadi jelas ketika rasul Paulus memberitahu Timotius :”Apa yang kau dengar dariku dihadapan banyak saksi, percayakan pada umat beriman yang sanggup mengajar yang lain juga” (2 Tim 2 : 2). Disini kita melihat beberapa hubungan dalam rantai tradisi apostolik yang diwariskan dari para rasul sampai sekarang. Paulus menginstruksikan Timotius untuk meneruskan ajaran-ajaran lisan (tradisi) yang ia terima dari rasul. Ia memberikan ini kepada orang yang sanggup mengajar yang lain, yang mengabadikan rantai [tradisi apostolik]. Paulus memberikan instruksi ini tidak lama sebelum kematiannya (2 Tim 4 : 6-8), sebagai pengingat kepada Timotius bagaimanaia harus melaksanakan pelayanannya.

Apa itu Tradisi?

Dalam diskusi ini, penting untuk mengingat apa yang dimaksud Gereja Katolik dengan tradisi. Istilah ini tidak merujuk pada catatan legenda atau mitologis, juga tidak mengandung budaya-budaya yang cepat berlalu atau praktek yang bisa berubah, sebagai wewenang situasi (circumstances warrant), seperti gaya berpakaian imam, atau rubrik liturgis. Tradisi Suci atau apostolik terdiri dari ajaran-ajaran yang para rasul teruskan secara lisan melalui khotbah mereka. Ajaran-ajaran ini sebagian besar (mungkin seluruhnya) tumpang tindih dengan yang terkandung dalam Kitab Suci, namun cara penyebarannya berbeda.

Ajaran-ajaran ini diteruskan turun temurun dan dipercayakan kepada Gereja. Hal ini perlu agar umat Kristen percaya dan mengikuti tradisi ini juga Kitab Suci (Lukas 10 : 16). Kebenaran iman diberikan terutama kepada para pemimpin Gereja (Ef 3 : 5), yang, bersama Kristus membentuk fondasi Gereja (Ef 2 : 20). Gereja telah dibimbing Roh Kudus, yang melindungi ajarannya dari kerusakan (Yoh 14 : 25-26, 16 : 14)

Penerusan Iman

Paulus menginstruksikan apa itu tradisi :”Karena apa yang aku sampaikan padamu pada tempat yang pertama apa yang telah aku terima, bahwa Kristus wafat demi dosa-dosa kita sesuai perkataan Kitab Suci…apakah itu aku atau mereka, itulah yang kami khotbahkan dan yang kamu percaya” (1 Kor 15 : 3,11). Rasul memuji mereka yang mengikuti Tradisi :”Aku memuji kamu karena kamu mengingat aku dalam segala sesuatu dan mempertahankan tradisi-tradisi yang telah aku sampaikan kepadamu” (1 Kor 11 : 2)

Umat Kristen awal “mendevosikan diri mereka pada ajaran para rasul” (Kis 2 : 42) lama sebelum ada Perjanjian Baru. Dari sejak awal, kepenuhan ajaran Kristen ditemukan dalam Gereja sebagai perwujudan Kristus yang hidup, bukan dalam sebuah kitab. Ajaran Gereja, dengan tradisi apostoliknya yang lisan, bersifat otoritatif. Paulus sendiri memberikan kutipan dari Yesus bahwa apa yang disampaikan secara lisan kepadanya :”Lebih terberkati untuk memberi daripada menerima” (Kis 20 :35).

Perkataan ini tidak tercatat dalam injil dan pasti telah disampaikan kepada Paulus. Bahkan injil sendiri adalah tradisi lisan yang ditulis (Lukas 1 : 1-4). Paulus tidak hanya mengutip perkataan Yesus. Ia juga mengutip dari himne Kristen awal, seperti dalam Efesus 5 : 14. Hal ini dan lainnya telah diberikan kepada umat Kristen “melalui Tuhan Yesus” (1 Tes 4 : 2).

Fundamentalis berkata bahwa Yesus mengutuk tradisi. Mereka mencatat bahwa Yesus berkata,”Mengapa kamu melanggar perintah Allah demi tardisimu?” (Mat 15 : 3). Paulus memperingatkan,”Janganlah seseorang memperdaya kamu dengan filsafatnya atau dengan pembicaraan yang hampa, menurut tradisi manusia, menurut roh alam semesta, dan tidak menurut Kristus” (Kol 2 : 8). Tapi ayat ini semata-mata mengutuk tradisi manusia yang salah, bukan kebenaran yang diteruskan turun-temurun dan dipercayakan kepada Gereja oleh para rasul. Kebenaran ini adalah bagian dari apa yang diketahui sebagai tradisi apostolik, yang harus dibedakan dari budaya dan tradisi manusia.

“Perintah-perintah Manusia”

Pertimbangkan Matius 15 : 6-9 yang sering dikutip Fundamentalis dan Evangelis untuk mempertahankan posisi mereka :”Jadi dengan tradisi-tradisimu engkau telah membatalkan perintah Allah. Hai orang munafik! Sungguh benar nubuat Yesaya tentangmu ketika ia berkata,”Bangsa ini menghormati aku dengan bibirnya, tapi hatinya jauh dariku. Pemujaan mereka sia-sia, karena ajaran-ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia””. Perhatikan dengan seksama apa yang Yesus katakan.

Ia tidak mengutuk semua tradisi. Ia hanya mengutuk mereka yang membuat sabda Allah tidak berlaku. Dalam hal ini, ini hanya masalah kaum Farisi yang berpura-pura mendedikasikan harta benda mereka kepada Kuil sehingga mereka bisa menghindari menggunakannya untuk mendukung orang tua mereka. Dengan melakukan ini, mereka menghindari perintah “Hormatilah ibu dan bapamu” (Kel 20 : 12).

Di tempat lain, Yesus menginstruksikan pengikutnya untuk berdiam dalam tradisi yang tidak bertentangan dengan perintah Allah. “Rabi Yahudi dan Farisi duduk di kursi Musa, jadi lakukan dan taati apapun yang mereka katakan kepadamu, tapi tidak apa yang mereka lakukan, karena mereka berkhotbah, namun tidak melaksanakannya” (Mat 23 : 2-3)

Apa yang sering dilakukan Fundamentalis dan Evangelis lakukan, sayangnya, adalah melihat kata “tradisi: dalam Matius 15 : 3 atau Kolose 2 : 8 atau di tempat lain dan menyimpulkan bahwa istilah “tradisi” harus ditolak. Mereka lupa bahwa istilah ini digunakan dalam pengertian yang berbeda, seperti dalam 1 Kor 11 : 2 dan 2 Tesalonika 2 : 15, untuk menggambarkan apa yang harus dipercaya. Yesus tidak mengutuk semua tradisi; Ia hanya mengutuk tradisi yang salah, apakah doktrin atau praktek, yang merusak kebenaran Kristen. Sisanya, seperti yang diajarkan para rasul, harus ditaati. Paulus memerintahkan umat di Tesalonika untuk mematuhi semua tradisi yang diberikan kepada mereka baik lisan atau tulisan.

Gereja yang Sempurna (Indefectible)

Tugasnya adalah untuk menetukan apa yang membentuk tradisi otentik. Bagaimana kita bisa mengetahui tradisi mana yang apostolik dan yang semata-mata manusiawi? Jawabannya sama seperti bagaimana kita mengetahui kitab mana yang apostolik dan yang semata-mata manusiawi – dengan mendengarkan Magisterium atau otoritas mengajar Gereja Kristus. Tanpa otoritas mengajar Gereja Katolik, kita tidak akan tahu dengan pasti kitab suci mana yang otentik. Jika Gereja mewahyukan pada kita “Kanon Kitab Suci”, Gereja juga bisa mewahyukan pada kita “Kanon Tradisi” dengan mendirikan tradisi yang diteruskan turun-temurun dari para rasul. Bagaimanapun, Kristus berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya (Mat 16 : 18) dan Perjanjian Baru sendiri mendeklarasikan bahwa Gereja adalah “pilar dan dasar kebenaran” (1 Tim 3 : 15)

Sumber.

Katekismus Gereja Katolik

Wewenang Mengajar [Magisterium] Gereja

85 “Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (DV 10).

86 “Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan,hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh Sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan-setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah” (DV 10).

87 Kaum beriman mengenangkan perkataan Kristus kepada para Rasul: “Barang siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Luk 10:16) Bdk. LG 20. dan menerima dengan rela ajaran dan petunjuk yang diberikan para gembala kepada mereka dalam berbagai macam bentuk.

Senin, 29 Agustus 2011

KUASA DOA SATU SALAM MARIA

Maria menerima Kabar Gembira dari Malaikat Gabriel
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.

Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini,
sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Jutaan umat Katolik biasa mendaraskan Salam Maria. Sebagian mendaraskannya dengan begitu cepat, bahkan tanpa memikirkan kata-kata yang mereka ucapkan. Pernyataan-pernyataan berikut ini semoga dapat membantu kita mendaraskannya dengan lebih khusuk.

Satu Salam Maria yang didaraskan dengan baik memenuhi hati Bunda Maria dengan sukacita dan memperolehkan bagi diri kita sendiri rahmat-rahmat luar biasa yang tak terkatakan, yang ingin dilimpahkan Bunda Maria kepada kita. Satu Salam Maria yang didaraskan dengan baik memperolehkan bagi kita jauh lebih banyak rahmat daripada seribu Salam Maria yang didaraskan secara asal.

Doa Salam Maria bagaikan suatu tambang emas di mana kita senantiasa dapat menggali darinya tanpa ia pernah menjadi habis. Sulitkah mendaraskan Salam Maria dengan baik? Yang kita perlukan hanyalah belajar memahami nilai dan artinya.

St. Hieronimus mengatakan bahwa “kebenaran yang terkandung dalam Salam Maria begitu agung dan luhur, begitu mengagumkan, hingga tak ada manusia atau pun malaikat yang dapat memahami sepenuhnya.”

St. Thomas Aquinas, Pujangga Gereja yang terkemuka, 'yang paling bijaksana di antara para kudus dan yang paling kudus di antara para bijaksana', seperti dinyatakan oleh Paus Leo XIII, berkhotbah selama 40 hari lamanya di Roma hanya tentang Salam Maria, membuat para pendengarnya terpesona serta penuh sukacita.

Pastor F. Suarez, seorang imam Yesuit yang terpelajar dan kudus, ketika sedang menghadapi ajal menyatakan bahwa dengan senang hati ia akan menyerahkan seluruh dari banyak buku berbobot yang ia tulis, juga seluruh karya sepanjang hidupnya, demi mendapatkan ganjaran dan jasa dari satu doa Salam Maria yang didaraskan dengan khusuk dan tulus.

St. Mechtilda, yang sangat mengasihi Bunda Maria, suatu hari sedang berusaha keras untuk menggubah sebuah doa yang indah untuk menghormati Bunda Maria. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya, dengan tulisan emas di dadanya: “Salam Maria penuh rahmat.” Santa Perawan berkata kepadanya, “Berhentilah, anakku terkasih, dari usahamu itu, oleh sebab tidaklah mungkin engkau dapat menggubah suatu doa yang dapat memberiku sukacita dan kebahagiaan seperti Salam Maria.”

Seorang pria memperoleh sukacita luar biasa dengan mendaraskan Salam Maria secara perlahan-lahan. Santa Perawan menampakkan diri kepadanya dengan tersenyum dan mengatakan kepadanya hari serta jam bilamana ia akan meninggal, serta memperolehkan baginya kematian yang paling kudus dan bahagia. Setelah kematiannya, sekuntum bunga bakung putih yang indah tumbuh dari mulutnya. Pada daun-daun bunganya tertulis “Salam Maria”.

Cesarius menceritakan kisah serupa. Seorang biarawan yang rendah hati dan kudus tinggal di sebuah biara. Daya tangkap dan daya ingatnya begitu lemah hingga ia hanya dapat menghafalkan satu doa saja, yaitu “Salam Maria”. Setelah kematiannya, sebatang pohon tumbuh di atas kuburnya dan pada semua daun-daunnya tertulis: “Salam Maria”.

Kisah-kisah indah berikut ini menunjukkan kepada kita betapa tinggi nilai devosi kepada Bunda Maria dan betapa besar kuasa doa Salam Maria yang didaraskan dengan khusuk.

Setiap kali kita mengucapkan Salam Maria, kita mengulangi kata-kata yang sama yang diucapkan Malaikat Agung St. Gabriel pada waktu menyampaikan salam kepada Maria pada Hari Kabar Sukacita, yaitu ketika ia menjadi Bunda Putra Allah.

Begitu banyak rahmat dan sukacita yang memenuhi jiwa Maria saat itu.

Sekarang, pada saat kita mendaraskan Salam Maria, kita mempersembahkan sekali lagi segala rahmat dan sukacita tersebut kepada Bunda Maria dan ia menerimanya dengan bahagia yang mendalam.

Sebagai balasnya, ia membagikan sukacitanya itu kepada kita.

Suatu ketika, Yesus meminta St. Fransiskus Asisi untuk memberi-Nya sesuatu. Orang kudus itu menjawab, “Tuhan terkasih, aku tak dapat memberi-Mu apa-apa lagi, sebab aku telah memberikan segalanya untuk-Mu, yaitu segenap cintaku.”

Yesus tersenyum dan berkata, “Fransiskus, berikan pada-Ku segenap cintamu itu lagi dan lagi, setiap kali, cintamu itu mendatangkan kesukaan yang sama bagi-Ku.”

Demikian juga dengan Bunda kita terkasih. Setiap kali kita mendaraskan Salam Maria, Bunda Maria menerima dari kita segala sukacita dan kebahagiaan yang sama seperti yang ia terima dari perkataan St. Gabriel.

Allah yang Mahakuasa telah menganugerahkan kepada Bunda-Nya yang Terberkati segala kemuliaan, keagungan, dan kekudusan yang diperlukan untuk menjadikannya Bunda-Nya Sendiri yang paling sempurna.

Namun demikian, Ia juga menganugerahkan kepada Bunda-Nya segala pesona, cinta, kelemah-lembutan serta kasih sayang yang diperlukan untuk menjadikannya Bunda kita yang paling terkasih. Bunda Maria adalah sungguh-sungguh dan benar-benar Bunda kita.

Seperti anak-anak lari kepada ibunya ketika menghadapi bahaya untuk minta perlindungan, demikian juga patutlah kita lari segera dengan keyakinan tak terbatas kepada Maria.

St. Bernardus dan banyak para kudus lainnya mengatakan bahwa tak pernah sekali pun terdengar pernah terjadi di suatu waktu atau pun tempat bahwa Bunda Maria menolak mendengarkan doa anak-anaknya yang di bumi.

Mengapakah kita tidak menyadari kebenaran yang sangat menghibur hati kita ini? Mengapakah kita menolak cinta dan penghiburan yang ditawarkan oleh Bunda Allah yang Manis kepada kita?

Adakah sikap acuh kita yang mengerikan, yang menjauhkan kita dari pertolongan dan penghiburan yang sedemikian itu?

Mengasihi dan mengandalkan Maria berarti berbahagia di dunia sekarang ini dan berbahagia kelak di Surga.

Dr. Hugh Lammer adalah seorang Protestan fanatik, dengan prasangka-prasangka kuat menentang Gereja Katolik. Suatu hari ia menemukan suatu penjelasan tentang Salam Maria dan membacanya. Ia begitu terpesona olehnya hingga mulai mendaraskannya setiap hari. Tanpa disadarinya, segala antipati dan kebenciannya terhadap Gereja Katolik mulai lenyap. Ia menjadi seorang Katolik, seorang imam yang kudus dan profesor Teologi Katolik di Breslau.

Seorang imam diminta datang ke sisi pembaringan seorang yang sedang menghadapi ajal dalam keputusasaan oleh karena dosa-dosanya. Namun demikian, orang itu bersikukuh menolak mengakukan dosa-dosanya. Sebagai usahanya yang terakhir, imam meminta si sakit agar setidak-tidaknya ia mendaraskan Salam Maria. Sesudah mendoakan Salam Maria, pria malang itu mengakukan dosanya dengan tulus dan meninggal dengan kudus.

Di Inggris, seorang imam paroki diminta untuk pergi menemui seorang wanita Protestan yang sedang sakit parah dan rindu menjadi seorang Katolik. Ketika ditanya apakah ia pernah pergi ke Gereja Katolik, atau apakah ia pernah belajar dari umat Katolik, atau apakah ia membaca buku-buku Katolik, ia menjawab, “Tidak, tidak pernah.” Sejauh yang dapat diingatnya ialah - ketika masih kanak-kanak - ia belajar dari seorang gadis kecil tetangga yang Katolik doa Salam Maria, yang kemudian dilakukannya setiap malam. Wanita itu kemudian dibaptis dan sebelum meninggal boleh menikmati kebahagian menyaksikan suami dan anak-anaknya dibaptis juga.

St. Gertrude mengatakan dalam bukunya, “Wahyu” bahwa ketika kita mengucap syukur kepada Tuhan atas rahmat-rahmat yang Ia berikan kepada seorang kudus tertentu, kita juga memperoleh bagian besar atas rahmat-rahmat tersebut.

Jika demikian, rahmat-rahmat apakah yang tidak akan kita peroleh jika kita mendaraskan Salam Maria sementara kita mengucap syukur kepada-Nya atas segala rahmat tak terkatakan yang telah Ia anugerahkan kepada Bunda-Nya Maria?


With Ecclesiastical Approval


“. . . Satu Ave Maria (Salam Maria) yang didaraskan tanpa perasaan mendalam, tetapi dengan kehendak yang tulus dalam masa kekeringan, jauh lebih bernilai di hadapanku daripada satu Rosario penuh yang didaraskan di tengah penghiburan.”

Bunda Maria kepada Sr. Benigna Consolata Ferrero


“Seorang imam Yesuit yang kudus dan terpelajar, Pastor Suarez, memahami dengan begitu mendalam nilai Salam Malaikat (Salam Maria) hingga ia mengatakan bahwa ia akan dengan senang hati menyerahkan segala ilmu yang diperolehnya demi memperoleh ganjaran dan jasa satu Salam Maria yang didaraskan dengan pantas.”

St. Louis De Montfort, Rahasia Rosario, hal. 48

Busana Liturgis Imam dalam Misa

Busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa mengalami perkembangan seturut berjalannya waktu. Namun demikian, sejak masa-masa awali Gereja, busana liturgis telah dikenakan oleh para imam untuk merayakan Misa. Walau para imam dari Perjanjian Lama mengenakan busana liturgis dalam ritus-ritus liturgis mereka, namun busana-busana liturgis “Kristiani” tidak sungguh diambil dari sana; tetapi, busana-busana liturgis Kristiani ini merupakan perkembangan dari busana Graeco-Romawi, termasuk budaya religiusnya. Meski begitu, gagasan dari Perjanjian Lama mengenai suatu busana khusus yang harus dikenakan dalam melaksanakan ritus-ritus liturgis sungguh mempengaruhi Gereja. St Hieronimus menegaskan, “Agama Ilahi memiliki satu busana dalam pelayanan hal-hal kudus, dan busana lain dalam interaksi dan hidup sehari-hari.” Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313M, Gereja terus menyempurnakan “siapa mengenakan apa, bilamana, dan bagaimana” hingga sekitar tahun 800 ketika norma-norma liturgis perihal busana pada dasarnya distandarisasi dan tetap sama hingga pembaharuan sesudah Konsili Vatikan Kedua.

Sekarang ini, untuk perayaan Misa, seorang imam mengenakan amik, alba, single, stola dan kasula.


AMIK, Tanda Perlindungan

Amik adalah selembar kain lenan putih berbentuk segi empat dengan dua tali panjang di dua ujungnya. Imam mengenakannya sekeliling leher, menutupi bahu dan pundak, menyilangkan kedua tali di depan (membentuk salib St Andreas), dan lalu membawa tali ke belakang punggung, melilitkannya sekeliling pinggang dan mengikatkannya dengan suatu simpul. Tujuan praktis amik adalah untuk menutupi jubah biasa imam, dan untuk menyerap keringat dari kepala dan leher. Di kalangan Graeco-Romawi, amik adalah penutup kepala, seringkali dikenakan di bawah topi baja para prajurit Romawi untuk menyerap keringat, dengan demikian mencegah keringat menetes ke mata. Tujuan rohani amik adalah mengingatkan imam akan nasehat St Paulus, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef 6:17).

Doa ketika mengenakan amik:
“Tuhan, letakkanlah pelindung keselamatan pada kepalaku untuk menangkis segala serangan setan.”


ALBA, Citra Kekudusan

Alba adalah pakaian putih panjang hingga sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata “alba” dalam bahasa Latin artinya “putih”. Alba adalah pakaian luar yang umum dikenakan di kalangan Graeco-Romawi dan mirip dengan soutane yang dikenakan di Timur Tengah. Tetapi, mereka yang berwenang mengenakan alba dengan kualitas yang lebih baik dengan aneka sulaman atau gambar. Beberapa alba modern memiliki kerah sehingga amik tidak diperlukan lagi. Tujuan rohani alba adalah mengingatkan imam akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup baru, dan martabat Kristiani. Di samping itu, Kitab Wahyu menggambarkan para kudus yang berdiri sekeliling altar Anak Domba di surga sebagai “Orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (7:14). Demikian pula imam wajib mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa, dan dengan kelayakan martabat imamat Kristus. Di beberapa negara tropis, termasuk Indonesia, jika tidak ada alba, maka dapat dipakai jubah yang berwarna putih.

Doa ketika mengenakan alba:
“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”


SINGEL, Tali Kesucian

Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang. Tujuan rohani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15).

Doa ketika mengenakan singel:
“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”


STOLA, Lambang Penugasan Resmi

Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka. Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan. Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan (“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula.

Doa ketika mengenakan stola:
“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”


KASULA, Lambang Cinta dan Pengorbanan

Kasula, disebut juga planeta, adalah pakaian luar yang dikenakan di atas alba dan stola. Kasula merupakan busana khas imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Selama berabad-abad model kasula telah mengalami beberapa perubahan dan variasi. Kasula berasal dari kata Latin “casula” yang artinya “rumah”; kasula di kalangan Graeco-Romawi serupa sebuah mantol tanpa lengan yang sepenuhnya menutupi tubuh dan melindungi si pemakai dari cuaca buruk. Tujuan rohani kasula adalah mengingatkan imam akan kasih dan pengurbanan Kristus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Doa ketika mengenakan kasula:
“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”


Pada Abad Pertengahan, muncul dua interpretasi populer mengenai makna busana liturgis ini. Interpretasi yang paling umum menafsirkan busana liturgis sebagai simbol sengsara Yesus: kain yang digunakan prajurit untuk menutup muka-Nya (amik) dan jubah (alba) sementara Ia diolok-olok dan disesah; tali-temali dan belenggu (singel) yang membelenggu-Nya sepanjang penderaan; salib (stola) yang Ia panggul; dan jubah tak berjahit (kasula) yang atasnya para prajurit membuang undi. Interpretasi lain yang juga populer lebih berfokus pada busana itu dari asal-usulnya yang dari militer Romawi, yang dipandang sebagai simbol imam sebagai laskar Kristus yang berperang melawan dosa dan setan.

yesaya.indocell.net

Busana Liturgis Imam dalam Misa

Busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa mengalami perkembangan seturut berjalannya waktu. Namun demikian, sejak masa-masa awali Gereja, busana liturgis telah dikenakan oleh para imam untuk merayakan Misa. Walau para imam dari Perjanjian Lama mengenakan busana liturgis dalam ritus-ritus liturgis mereka, namun busana-busana liturgis “Kristiani” tidak sungguh diambil dari sana; tetapi, busana-busana liturgis Kristiani ini merupakan perkembangan dari busana Graeco-Romawi, termasuk budaya religiusnya. Meski begitu, gagasan dari Perjanjian Lama mengenai suatu busana khusus yang harus dikenakan dalam melaksanakan ritus-ritus liturgis sungguh mempengaruhi Gereja. St Hieronimus menegaskan, “Agama Ilahi memiliki satu busana dalam pelayanan hal-hal kudus, dan busana lain dalam interaksi dan hidup sehari-hari.” Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313M, Gereja terus menyempurnakan “siapa mengenakan apa, bilamana, dan bagaimana” hingga sekitar tahun 800 ketika norma-norma liturgis perihal busana pada dasarnya distandarisasi dan tetap sama hingga pembaharuan sesudah Konsili Vatikan Kedua.

Sekarang ini, untuk perayaan Misa, seorang imam mengenakan amik, alba, single, stola dan kasula.


AMIK, Tanda Perlindungan

Amik adalah selembar kain lenan putih berbentuk segi empat dengan dua tali panjang di dua ujungnya. Imam mengenakannya sekeliling leher, menutupi bahu dan pundak, menyilangkan kedua tali di depan (membentuk salib St Andreas), dan lalu membawa tali ke belakang punggung, melilitkannya sekeliling pinggang dan mengikatkannya dengan suatu simpul. Tujuan praktis amik adalah untuk menutupi jubah biasa imam, dan untuk menyerap keringat dari kepala dan leher. Di kalangan Graeco-Romawi, amik adalah penutup kepala, seringkali dikenakan di bawah topi baja para prajurit Romawi untuk menyerap keringat, dengan demikian mencegah keringat menetes ke mata. Tujuan rohani amik adalah mengingatkan imam akan nasehat St Paulus, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef 6:17).

Doa ketika mengenakan amik:
“Tuhan, letakkanlah pelindung keselamatan pada kepalaku untuk menangkis segala serangan setan.”


ALBA, Citra Kekudusan

Alba adalah pakaian putih panjang hingga sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata “alba” dalam bahasa Latin artinya “putih”. Alba adalah pakaian luar yang umum dikenakan di kalangan Graeco-Romawi dan mirip dengan soutane yang dikenakan di Timur Tengah. Tetapi, mereka yang berwenang mengenakan alba dengan kualitas yang lebih baik dengan aneka sulaman atau gambar. Beberapa alba modern memiliki kerah sehingga amik tidak diperlukan lagi. Tujuan rohani alba adalah mengingatkan imam akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup baru, dan martabat Kristiani. Di samping itu, Kitab Wahyu menggambarkan para kudus yang berdiri sekeliling altar Anak Domba di surga sebagai “Orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (7:14). Demikian pula imam wajib mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa, dan dengan kelayakan martabat imamat Kristus. Di beberapa negara tropis, termasuk Indonesia, jika tidak ada alba, maka dapat dipakai jubah yang berwarna putih.

Doa ketika mengenakan alba:
“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”


SINGEL, Tali Kesucian

Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang. Tujuan rohani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15).

Doa ketika mengenakan singel:
“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”


STOLA, Lambang Penugasan Resmi

Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka. Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan. Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan (“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula.

Doa ketika mengenakan stola:
“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”


KASULA, Lambang Cinta dan Pengorbanan

Kasula, disebut juga planeta, adalah pakaian luar yang dikenakan di atas alba dan stola. Kasula merupakan busana khas imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Selama berabad-abad model kasula telah mengalami beberapa perubahan dan variasi. Kasula berasal dari kata Latin “casula” yang artinya “rumah”; kasula di kalangan Graeco-Romawi serupa sebuah mantol tanpa lengan yang sepenuhnya menutupi tubuh dan melindungi si pemakai dari cuaca buruk. Tujuan rohani kasula adalah mengingatkan imam akan kasih dan pengurbanan Kristus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Doa ketika mengenakan kasula:
“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”


Pada Abad Pertengahan, muncul dua interpretasi populer mengenai makna busana liturgis ini. Interpretasi yang paling umum menafsirkan busana liturgis sebagai simbol sengsara Yesus: kain yang digunakan prajurit untuk menutup muka-Nya (amik) dan jubah (alba) sementara Ia diolok-olok dan disesah; tali-temali dan belenggu (singel) yang membelenggu-Nya sepanjang penderaan; salib (stola) yang Ia panggul; dan jubah tak berjahit (kasula) yang atasnya para prajurit membuang undi. Interpretasi lain yang juga populer lebih berfokus pada busana itu dari asal-usulnya yang dari militer Romawi, yang dipandang sebagai simbol imam sebagai laskar Kristus yang berperang melawan dosa dan setan.

yesaya.indocell.net

Bunda Teresa


"By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus."

Itulah yang dikatakan oleh salah seorang tokoh kemanusiaan yang dipenuhi oleh cinta kasih. Bunda Teresa, seorang yang memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin di India.
Dilahirkan di Skopje, Albania pada 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.

Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.

Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary's High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.

Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling.
Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai "Hari Penuh Inspirasi" oleh Bunda Teresa.

Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.

Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.

Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka, di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa tatkala perjuangannya mulai mendapat perhatian, tidak hanya individu-individu, melainkan juga dari berbagai organisasi gereja.

Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Diinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka telantar di jalan-jalan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum termiskin di antara yang miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.

Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke daerah-daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin.

Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.
Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan telantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.

Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston.
Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize.
Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan.

Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama agi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.

Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.

Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda

Jumat, 26 Agustus 2011

Doa St.Fransiskus dari Asisi


Allah yang Mahakuasa dan Kekal, Bapa yang Maharahim, yang telah memberikan kepada umat manusia PutraMu terkasih sebagai teladan kerendahan hati, ketaatan dan kesabaran, untuk mendahului kami di jalan kehidupan, dengan memanggul Salib: Sudi anugerahilah agar kiranya kami, terbakar oleh kasih-Nya yang tak terhingga, memikul kuk manis Injil-Nya bersama silih Salib, mengikuti-Nya sebagai para pengikut-Nya yang sejati, agar kami suatu hari kelak dapat bangkit jaya bersama-Nya dan dengan penuh sukacita mendengar keputusan akhir: “Marilah, engkau yang diberkati BapaKu, dan milikilah kerajaan yang telah dipersiapkan bagimu sejak dari permulaan,” di mana Engkau berkuasa bersama Putra dan Roh Kudus, dan di mana kami berharap berkuasa bersama-Mu, dunia tanpa akhir. Amin.

-St.Fransiskus dari Asisi-

Jumat, 19 Agustus 2011

Iman dan Perbuatan

Iman kepada Allah harus tampak dalam perbuatan. Penyerahan diri secara total kepada Allah bagi kita tidak hanya menjadi pengetahuan teoritas, melainkan tampak dalam cipta, rasa dan karsa kita (tindakan, perasaan, penghayatan, dan kehendak). St.Yakobus dalma suratnya menegaskan sebagai berikut: "Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati." Baca teks Kitab Suci Yakobus 2: 14-26.

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan ? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati .

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku. "

2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya , ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. " Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."

2:24Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Surat Yakobus itu menegaskan adanya hubungan yang erat antara iman dan perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati dan kosong. Iman yang tidak menyelamatkan. Hidup beriman bukan sebatas pengetahuan dan mengakui adanya Allah. Beriman bukan pula sebatas menjalankan ibadah, sebab ibadah yang tidak berbuah kebaikan akan sia-sia belaka (bdk Yak 1:26). Beriman yang benar harus terwujud dalam tindakan yang menyelamatkan dan membahagiakan sesama.

Hal tersebut juga pernah dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya : "Bukan setiap orang yang berseru: Tuhan! Tuhan! akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang disurha" (Mat 7:21). Ibadat, agama dan iman merupakan sarana untuk membangun kedekatan dengan Allah. Kedekatan dengan Allah yang diwujudkan dalam perbuatan nyata dalam hidup sehari-hari itulah yang dikehendaki oleh Allah. Buah-buah iman, ibadat, dan agama itulah yang menjadi ukuran penyelamatan kita. Hal itu lebih tegas lagi dikatakan oleh Yesus dalam pengajaran tentang pengadilan terakhir (lih. Mat 25)